Siapa
yang Pikun ?
Nenek
saya sedikit pelupa. Seiring berjalannya usia beliau, penyakit ‘lupa’ itu
menjadi sedikit lebih parah. Paman-paman saya sering mengatakan nenek pikun. Pikun
karena usia yang semakin meninggi. Sebutan ini pada awalnya saya rasa wajar
melihat banyak kekacauan muncul yang sebenarnya sedikit membuat geli sebagai
akibat kepikunan nenek. Nenek sering lupa dimana meletakkan tongkat yang baru
dibawa. Nenek sering lupa dimana alamat / rumah beliau. Nenek sering lupa
dimana tempat meletakkan uang. Dan yang paling parah beliau pernah lupa berapa
dan siapa saya anak-anak dan cucu-cucunya. Bahkan terakhir kali saya berkunjung
beliau lupa nama saya, cucunya sendiri.
Suatu hari nenek
membuat saya kebingungan mencari selendang yang baru diambil dari lemari. Saya
akui saya sedikit kesal karena hari itu saya akan melakukan interview
penerimaan kerja. Setelah selendang nenek ketemu, giliran kunci motor saya yang
hilang. Giliran nenek yang kebingungan membantu saya menemukan kunci motor.
Tiba-tiba nenek menyeletuk “ masih muda kuk sudah pikun, naruh kunci motor aja
lupa “. Saya merasa dongkol, tapi memang begitu kenyataannya. Tapi mengapa
nenek menyebut saya pikun ? padahal saya hanya lupa ? Nah dari situ saya mulai
merenung, kalau begitu apa bedanya saya dengan nenek? Nenek menyebut saya pikun
karena lupa. Sedangkan paman-paman saya mengatakan nenek saya pikun karena
beliau juga pelupa dan beliau sudah tua. Apakah kesimpulannya saya juga mulai
tua karena saya juga mengalami ‘kelupaan’?? Lalu siapa sebenarnya yang pantas di sebut
pikun? Saya atau nenek? Atau dua-duanya?
Yang jelas sejak kejadian itu timbul pertanyaan-pertanyaan serupa di
dalam otak saya.
Lupa / Kelupaan
sebenarnya sering dialami oleh semua orang. Tak peduli berapa umurnya, namun
kelupaan yang dialami bisa saja berbeda-beda. Lupa / Kelupaan merupakan kejadian
dimana sebagian atau bahkan seluruh memori tidak berfungsi pada otak.
Penyimpanan memori di dalam otak tentu tidak lepas dari pemrosesan melalui Sensory memory (SM), Short memory (STM), dan Long Term memory(LTM).
Pada mulanya sensasi
diterima oleh reseptor sensorik dan diubah menjadi memori sensorik (sensory memory). Sensory Memory
berfungsi sebagai received / penerima memori yang pertama. Lupa bisa saja
terjadi pada tahap ini yang disebut kegagalan penyandian (failure on decode). Sebenarnya kegagalan penyandian ini belum bisa
dikatakan sebagai ‘lupa’ karena kegagalan penyandian terjadi ketika informasi
belum benar-benar masuk pada resptor sensorik. Sensasi seharusnya membentuk atensi,
namun pada kegagalan penyandian sensasi tidak dapat membentuk atensi sehingga tidak
dsebut ‘lupa’ karena memang tidak/belum ada informasi yang diingat/masuk pada
memori. Kegagalan penyandian dapat terjadi apabila system sensorik tidak
bekerja sepenuhnya karena atensi diarahkan pada stmuli relevan/dominan yang ada
pada lingkungan. Contohnya adalah ketika saya lupa dimana meletakkan kunci
motor.Ini terjadi karena atensi saya
sepenuhnya mengarah pada membantu menemukan selendang nenek saya. Sehingga saya
tidak menyadari system sensori saya yang bekerja (meletakkan kunci motor).
STM (Short Term Memory) merupakan tempat
penyimpanan memori sementara – storage. Adanya kelupaan pada tahap Sensory
Memory menuju memori jangka pendek ini dikarenakan decay yaitu memudarnya memori seiring berlalunya waktu atau jarang
di gunakan / di recall. Selain decay kelupaan juga terjadi akibat kegagalan
konsilidasi. Selanjutnya Short Term
Memory menyalurkan informasi kepada Long
Term Memory (LTM). Lupa dapat terjadi karena decay, dan kegagalan
penyandian.
Tahapan penyimpanan
memori yang terakhir adalah Long Term
Memory-memori jangka panjang. Memori jangka panjang berfungsi sebagai Retrieval-mendapatkan kembali memori
yang disimpan dengan me-recall dan recognize. Kelupaan/lupa pada LTM
dikarenakan decay, Amnesia-kerusakan otak secara fisik, dan Retriveal value yaitu kegagalan
mengambil kode yang ada.
Pada intinya
kelupaan/lupa bisa saja terjadi pada setiap tahapan proses penyimpanan memory.
Lalu bagaimana dengan pikun? Pikun adalah sebutan bagi ‘lupa’ yang membudaya di
masyarakat kita. Istilah pikun memang lebih sering ditujukan pada orang-orang
usia lanjut yang mengalami kemunduran pada memori-memori tertentu. Ada yang
mengalami kemunduran pada memori episodic(lupa pada hal-hal sederhana yang
sebenarnya sudah biasa dilakukan) seperti yang terjadi pada nenek saya. Beliau
mudah melupakan kejadian-kejadian yang baru saja dialami, maupun mudah
melupakan apa yang baru saja dilakukan namun beliau masih memiliki beberapa
memori yang melekat kuat pada LTM. Buktinya beliau masih ingat dengan apa yang
terjadi di masa kecilnya, dll.
Lupa atau kelupaan bisa dialami oleh setiap
orang pada setiap tahapan umum. Lupa tidak dapat dikelompokkan dengan umum (seperti halnya kepikunan), namun lupa atau
kelupaan dispesifikasikan berdasarkan dalam tahapan proses penyimpanan memori.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar