Selasa, 17 Desember 2013

Bab : Melupakan Dan Mengingat



Siapa yang Pikun ?
            Nenek saya sedikit pelupa. Seiring berjalannya usia beliau, penyakit ‘lupa’ itu menjadi sedikit lebih parah. Paman-paman saya sering mengatakan nenek pikun. Pikun karena usia yang semakin meninggi. Sebutan ini pada awalnya saya rasa wajar melihat banyak kekacauan muncul yang sebenarnya sedikit membuat geli sebagai akibat kepikunan nenek. Nenek sering lupa dimana meletakkan tongkat yang baru dibawa. Nenek sering lupa dimana alamat / rumah beliau. Nenek sering lupa dimana tempat meletakkan uang. Dan yang paling parah beliau pernah lupa berapa dan siapa saya anak-anak dan cucu-cucunya. Bahkan terakhir kali saya berkunjung beliau lupa nama saya, cucunya sendiri.         
Suatu hari nenek membuat saya kebingungan mencari selendang yang baru diambil dari lemari. Saya akui saya sedikit kesal karena hari itu saya akan melakukan interview penerimaan kerja. Setelah selendang nenek ketemu, giliran kunci motor saya yang hilang. Giliran nenek yang kebingungan membantu saya menemukan kunci motor. Tiba-tiba nenek menyeletuk “ masih muda kuk sudah pikun, naruh kunci motor aja lupa “. Saya merasa dongkol, tapi memang begitu kenyataannya. Tapi mengapa nenek menyebut saya pikun ? padahal saya hanya lupa ? Nah dari situ saya mulai merenung, kalau begitu apa bedanya saya dengan nenek? Nenek menyebut saya pikun karena lupa. Sedangkan paman-paman saya mengatakan nenek saya pikun karena beliau juga pelupa dan beliau sudah tua. Apakah kesimpulannya saya juga mulai tua karena saya juga mengalami ‘kelupaan’??  Lalu siapa sebenarnya yang pantas di sebut pikun? Saya atau nenek? Atau dua-duanya?  Yang jelas sejak kejadian itu timbul pertanyaan-pertanyaan serupa di dalam otak saya.
Lupa / Kelupaan sebenarnya sering dialami oleh semua orang. Tak peduli berapa umurnya, namun kelupaan yang dialami bisa saja berbeda-beda. Lupa / Kelupaan merupakan kejadian dimana sebagian atau bahkan seluruh memori tidak berfungsi pada otak. Penyimpanan memori di dalam otak tentu tidak lepas dari pemrosesan melalui Sensory memory (SM), Short memory (STM), dan Long Term memory(LTM). 
Pada mulanya sensasi diterima oleh reseptor sensorik dan diubah menjadi memori sensorik (sensory memory). Sensory Memory berfungsi sebagai received / penerima memori yang pertama. Lupa bisa saja terjadi pada tahap ini yang disebut kegagalan penyandian (failure on decode). Sebenarnya kegagalan penyandian ini belum bisa dikatakan sebagai ‘lupa’ karena kegagalan penyandian terjadi ketika informasi belum benar-benar masuk pada resptor sensorik. Sensasi seharusnya membentuk atensi, namun pada kegagalan penyandian sensasi tidak dapat membentuk atensi sehingga tidak dsebut ‘lupa’ karena memang tidak/belum ada informasi yang diingat/masuk pada memori. Kegagalan penyandian dapat terjadi apabila system sensorik tidak bekerja sepenuhnya karena atensi diarahkan pada stmuli relevan/dominan yang ada pada lingkungan. Contohnya adalah ketika saya lupa dimana meletakkan kunci motor.Ini terjadi karena  atensi saya sepenuhnya mengarah pada membantu menemukan selendang nenek saya. Sehingga saya tidak menyadari system sensori saya yang bekerja (meletakkan kunci motor).
STM (Short Term Memory) merupakan tempat penyimpanan memori sementara – storage. Adanya kelupaan pada tahap Sensory Memory menuju memori jangka pendek ini dikarenakan decay yaitu memudarnya memori seiring berlalunya waktu atau jarang di gunakan / di recall. Selain decay kelupaan juga terjadi akibat kegagalan konsilidasi. Selanjutnya Short Term Memory menyalurkan informasi kepada Long Term Memory (LTM). Lupa dapat terjadi karena decay, dan kegagalan penyandian.
Tahapan penyimpanan memori yang terakhir adalah Long Term Memory-memori jangka panjang. Memori jangka panjang berfungsi sebagai Retrieval-mendapatkan kembali memori yang disimpan dengan me-recall dan recognize. Kelupaan/lupa pada LTM dikarenakan decay, Amnesia-kerusakan otak secara fisik, dan Retriveal value yaitu kegagalan mengambil kode yang ada.
Pada intinya kelupaan/lupa bisa saja terjadi pada setiap tahapan proses penyimpanan memory. Lalu bagaimana dengan pikun? Pikun adalah sebutan bagi ‘lupa’ yang membudaya di masyarakat kita. Istilah pikun memang lebih sering ditujukan pada orang-orang usia lanjut yang mengalami kemunduran pada memori-memori tertentu. Ada yang mengalami kemunduran pada memori episodic(lupa pada hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah biasa dilakukan) seperti yang terjadi pada nenek saya. Beliau mudah melupakan kejadian-kejadian yang baru saja dialami, maupun mudah melupakan apa yang baru saja dilakukan namun beliau masih memiliki beberapa memori yang melekat kuat pada LTM. Buktinya beliau masih ingat dengan apa yang terjadi di masa kecilnya, dll.
 Lupa atau kelupaan bisa dialami oleh setiap orang pada setiap tahapan umum. Lupa tidak dapat dikelompokkan dengan umum  (seperti halnya kepikunan), namun lupa atau kelupaan dispesifikasikan berdasarkan dalam tahapan proses penyimpanan memori.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar